RESENSI NOVEL : TENTANG KAMU
IYA KAMU... KAMU YANG HATINYA DIPENUHI
OLEH LUKA MASA LALU
Judul
Buku : Tentang Kamu
Penerbit
: Republika
Penulis
: Tere Liye
Tebal
Buku : 524 Halaman
ISBN
: 978-602-08-2234-1
Harga
: Rp. 79.000,00 ( www.bukurepublika.id
)
Tahun
Terbit : Cetakan I Oktober 2016
Cetakan II Oktober 2016
Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan
kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan
memberikan kita keberanian.
(Juz Keempat. Tentang Cinta. 1980-1999. Hal
286).
***
SINOPSIS
“Kamu tidak salah mendengarnya, Zulkarnaen... Klien ini
mewariskan aset berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar poundsterling.
Dalam mata uang negara asalmu, itu setara 19 triliun rupiah, bukan? Dengan
warisan sebesar itu, dia lebih kaya dibanding Ratu Inggris dan keluarganya.
Namanya bisa masuk dalam 100 orang terkaya di Kerajaan Inggris.” (Hal. 11)
Harta Warisan tanpa ahli waris. Itulah awal
mula kisah dalam novel ini. Adalah Zaman Zulkarnaen, pengacara asal Indonesia dari
Thompson & Co, firma hukum terkenal di Belgrave Square, London yang
ditugaskan untuk memecahkan kasus seorang perempuan tua, berusia 70 tahun, dan
belasan tahun terakhir tinggal di panti jompo.
Zaman ditugaskan untuk melakukan riset atas
kasus tersebut. Harta waris yang tidak memiliki ahli waris itu harus jatuh ke
tangan orang yang tepat. Masalahnya adalah, tidak ada petunjuk lain selain
surat keterangan yang dititipkan beberapa tahun lalu melalui pos. Petunjuk
pertama dan satu-satunya yang dimiliki Zaman hanyalah alamat panti jompo yang
terletak di Paris, tempat perempuan tua itu menghabiskan masa senja dan
mengembuskan nafas terakhir setelah meninggalkan harta warisan senilai 19
triliun rupiah. Berangkatah Zaman, menelusuri setapak demi setapak perjalanan
hidup perempuan tua bernama Sri Ningsih. Perjalanan hidup yang sejak lahir
tidak pernah berjalan mulus dan mudah. Pada akhirnya, bukan hanya Zaman harus
menyelesaikan tugasnya, ia justru mendapatkan begitu banyak pelajaran hidup
dari seorang Sri Ningsih.
Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki
batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin
apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.
Tidak bisa. (Juz pertama. Tentang Kesabaran. 1946-1960)
Petunjuk selanjutnya adalah buku diary yang
diberikan Madame Aimee, petugas panti
jompo yang ia temui di Paris. Buku diary yang terbagi menjadi lima bagian itu
diselipi beberapa foto yang ditempelkan. Foto pertama adalah Sri Ningsih kecil
berdiri di atas perahu kecil dengan latar sebuah papan nama penunjuk tempat, ‘Bungin’.
Berangkatlah Zaman ke Sumbawa, Indonesia. Pulau
Bungin mulai memberikan titik terang bagi Zaman. Di sana ia bertemu dengan Pak
Tua, saksi hidup Sri Ningsih. Pak Tua adalah anak kepala kampung yang saat itu
usianya lebih tua beberapa tahun dari Sri. Beliau menceritakan kisah seorang
Sri Ningsih yang di juluki ‘Gadis kecil yang dikutuk’.
Di usia belia, Sri harus menerima kekerasan
secara lahir dan batin dari ibu tirinya. Di usia 14 terjadi kebakaran di rumah
Sri yang menyebabkan Ibu tirinya tewas. Sejak itu, Sri bersama adiknya
memutuskan meninggalkan Pulau Bungin dan memulai harapan baru di pulau Jawa.
Babak baru kehidupan Sri Ningsih dimulai
pada sebuah Madrasah di Surakarta, ia menemukan sahabat-sahabat baru dan
keluarga Kiai Masum yang menyayanginya. Sri merasa bahagia, namun hanya dalam
hitungan detik bahagia itu telah sirna. Pengkhianatan dari salah satu
sahabatnya membawa luka yang cukup dalam di hatinya. Ia juga kehilangan adik
satu-satunya dalam pembantaian gerakan pemusnahan massal di madrasah oleh PKI.
Bukan Sri namanya jika ia menyerah di
perjalanan. Mimpinya untuk dapat meihat dunia harus tertunaikan. Sri kemudian
melanjutkan hidupnya di Jakarta. Berusaha berdamai dengan masa lalu dan memeluk
setiap jengkal rasa sakit yang ia dapatkan di madrasah. Sri bangkit, menyusun
kembali puzzle-puzzle semangat yang telah runtuh sebelumnya.
Di sini, di kota tempat harapan ribuan pendatang berlabuh,
tiap hari terminal, stasiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu gemerlap,
jalan-jalan luas, kawasan hijau yang semakin habis, orang-orang mengejar mimpi.
Terima kasih atas pelajarn berharga tentang keteguhan. Aku
tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan
berapa kali kita bangkit, bangkit lagi, lagi dan lagi setelah gagal tersebut.
Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.
(Juz ketiga. Tentang keteguhan hati. 1967-1979. Hal 210)
Sri Ningsih tumbuh menjadi perempuan yang
lebih kuat dari sebelumnya. Jakarta mendidiknya untuk tidak pernah menyerah.
Mulai dari menjadi pedang keliling nasi goreng, hingga ia terus melakukan
inovasi-inovasi baru dan memiliki usaha rental mobil yang belum banyak di
geluti pada saat itu bahkan mendirikan pabrik sabun yang mampu bersaing dengan
pabrik terkenal lainnya. Namun cobaan datang silih berganti. Masa lalu yang
ingin dia tinggalkan justru muncul kembali seperti hantu. Sri harus Pergi.
Lagi, Sri memutuskan hijrah ke luar negeri.
London menjadi tempat pilihan Sri. Ia melakukan pekerjaan apa saja sepanjang ia
dapat bertahan hidup dan memulai lagi kesempatan untuk berhasil kembali.
Bagaimana Seorang Sri Ningsih Menjalani
kehidupannya di London? Dapatkah ia bangkit dari keterpurukan? Dapatkah ia
melupakan masa lalunya yang kelam? Apakah perempuan bertubuh pendek, Gempal dan
berkulit hitam itu akan menemukan cinta sejatinya? Lalu Zaman Zulkarnaen, mampukah
ia memecahkan kasus tersebut dan memberikan keadilan bagi perempuan tua berhati
kristal yang bernama Sri Ningsih?
REVIEW
Awalnya, ketika novel ini mendarat manis di
tangan saya lalu melihat cover bergambar sepasang sepatu, saya sempat bersorak
kegirangan (dalam hati tentunya). Ini cover yang saya pilih ketika Tere Liye
melakukan survei di fanspage fb nya. Saya termasuk orang yang rajin menyambangi
fanspage nya, selain quote nya yang menenangkan hati para single seperti saya –eh-
juga untuk update novel terbaru apa yang akan beliau luncurkan.
Ketika itu, saya memilih cover tersebut
karena Tere Liye mengatakan akan membuat novel tentang perjalanan. Menurut saya
pribadi, gambar sepatu mewakili perjalanan hidup seseorang. Kemana kaki
melangkah, keputusan apa yang dibuat, seberapa lama kita menjalani berbagai
suka duka dan peliknya kehidupan, sepatulah yang menjadi saksi bisu nya.
Jadi, dengan petunjuk dari Tere Liye bahwa
ini adalah novel tentang perjalanan, ekspektasi awal saya terhadap novel ini mirip
dengan karya A.Fuadi, Ranah Tiga Warna. Novel yang menceritakan perjalanan Alif
melintasi berbagai benua dengan segala aral rintangan yang dihadapinya. Perbedaan
budaya, bahasa dan kebiasaan menjadi permasalahan yang sama yang akan saya
temukan di novel ini. Saya pun membayangkan tokoh yang tidak jauh berbeda
dengan Alif. Mungkin gaya bahasanya saja yang akan berbeda antara A. Fuadi
dengan Tere Liye.
Dan... tepat di halaman 13 saya mengakui
ternyata hipotesis awal saya salah total. Ini jelas berbeda. Tentang kamu,
iya.. kamu. Kamu yang mempunyai harta warisan setara dengan kekayaan yang
dimiliki Ratu Inggris dan keluarganya. Kamu yang dengan harta sebanyak itu
memilih menghabiskan waktu senja di sebuah Panti Jompo dengan mengajar menari
dan berkebun tomat, cabai, dan sayur mayur lainnya.
Halaman 13 menyadarkan saya, bahwa sejatinya
novel Tentang Kamu bercerita tentang biografi seorang Sri Ningsih. Zaman
Zulkarnaen yang terpilih untuk menapaki kisah hidup Sri sejak ia lahir di Pulau
Bungin Sumbawa kemudian ke Surakarta, Ibukota Jakarta, London, dan mengakhiri
kisahnya di Paris. Meninggalkan 19 Triliun Rupiah tanpa ahli waris.
LATAR
CERITA
Menapaki halaman 14, 15,..., 524 mulai
membuat saya semakin tertarik padamu Sri. Tere Liye belum pernah mengecewakan
saya dalam menggambarkan setting dalam cerita. Saya masih teringat dan susah
sekali move on dari abang Borno yang mengayuh perahu sepit di sungai Kapuas.
Hutan di pedalaman Sumatera dalam Novel Amelia, tegangnya suasana bom Bali dan
indahnya Lombok dalam Sunset Bersama Rosi, kisruhnya tsunami di Aceh dalam
hafalan solat Delisa, atau berbagai intrik ekonomi-politik dalam Negeri Para
Bedebah. Ah, saya tidak mungkin memaparkan 17 novel Tere Liye yang tega membuat
saya gagal Move on. Tere Liye sukses
membawa saya ke Kalimantan, Aceh, Sumatera, Lombok, Bali ,dsb, meskipun saya
belum pernah ke sana.
Ini di depan Victoria
Bus Station, persis di samping stasiun kereta Victoria tempat dia turun
setiap pagi, dan hanya 900 meter dari Belgrave Square. Entah kapan foto ini
diambil, Sri berdiri di depan bus dengan nomor rute 16, ini rute yang
menghubungkan Cricklewood dan Victoria, dengan lintasan sepanjang 9,7 km,
melewati jalan dan landmark penting Kota
Londong, termasuk Buckingham Palace.
Tentang kamu juga sukses menyeret saya ke
rentang tahun 1942- 2000an, bahkan Tentang Kamu juga membawa saya bernostalgia
dengan kapten Philips dari kapal haji Holland Blitar yang membawa Ana dan Elsa tahun
1938 di novel Rindu. Setting Pulau Bungin sebagai perkampungan nelayan, Jakarta
tempo dulu, London, Paris, ah iya, Surakarta. Beberapa peristiwa juga mendukung
cerita seperti hidup dan nyata, saya sampai larut dalam cerita dan nyaris
mempercayai kalau ini adalah true story. Di antara peristiwa itu antara lain
pemberontakan PKI tahun 1965, peristiwa Malari 1974 bahkan krisis millenium bug
atau Y2K.
Saya jadi bertanya-tanya berapa lama Tere
Liye melakukan risetnya untuk menulis Tentang Kamu. Dalam seminarnya, Tere Liye
pernah mengatakan bahwa membuat novel itu mudah dan tidak memakan waktu yang
lama. Yang tidak mudah justru risetnya. Pantas saja jika hasil novelnya hampir
selalu mendapat stempel best seller.
KARAKTER TOKOH
“Kamu tahu, Sri, kenapa aku baru menikah di usia 39 tahun?”Hakan
bertanya pelan.
“Karena kamu laki-laki yang pemalu.” Sri menjawab.
“Bukan, Sri. Melainkan agar kita bisa bertemu dan menikah. Aku
menunggu begitu lama untuk jatuh cinta, Sri. Hingga seorang gadis Indonesia bernama
Sri Ningsih tiba di London. Aku juga menunggu sekian lama untuk bertemu dengannya
di bus Rute 16. Itu suratan takdir yang menakjubkan.”(Hal.408)
Ini Tentang Kamu Sri, yang sepanjang
perjalanan hidupmu memilih cara-cara hidup yang bersahaja. Sri yang tidak
pernah membiarkan rasa benci dan dendam menguasai hatinya. Sri yang selalu
memandang setiap hal dari sisi yang berbeda. Sri, meski menurutmu, kamu yang
pendek, gempal dan berkulit hitam tidak mungkin menemukan cinta dalam hidupmu.
Nyatanya, Sri Ningsih yang pada saat itu hanya berprofesi sebagai supir bus
rute 16, mampu meluluhkan hati seorang Hakan Karim. Pemuda Turki yang tampan
dan cerdas. Ah, saya jadi iri dengan Sri di bagian ini.
Kalau kalian menganggap novel ini serius
sepanjang 524 halaman, kalian salah besar. Keluarga angkat Sri di London adalah
orang-orang yang selalu membuat saya tertawa sendirian. Lalu ada momen-momen
romantis antara Sri dan Hakan. Bukan romantis yang dipenuhi bunga, surat cinta
penuh rayuan gombal, makan malam berdua dan sejenisnya. Kalau kalian sudah
membaca novel-novel Tere Liye, kisah romantis begitu jelas bukan Tere Liye
banget. Ini romantisnya udah kebangetan deh pokoknya. Bikin speechless dan saya
akan baper berhari-hari sampai bikin status di fb.
Tere Liye tidak perlu menjelaskan
karakter-karakter tokoh-tokohnya dalam paragraf tersendiri. Kita sebagai
pembaca diberikan ruang yang luas untuk berimajinasi dan menyimpulkan bagaimana
karakter masing-masing tokohnya lewat dialog-dialog yang ada. Saya rasa, dari
metode inilah Tere Liye sukses menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam novelnya.
Karena kita sebagai pembaca yang bertugas menemukan lembar keberapa nilai-nilai
itu berada. Karakter apa yang menempel pada Rahayu, Nugroho, Sri, Nusi Maratta,
Pak Tua, La Golo, Zaman, Lusi, Rajendra Khan dan semua tokoh yang ada.
PLOT
Alur maju mundur digunakan Tere Liye dalam
novel ini. Hal ini umum dilakukan dalam penulisan novel biografi, karena ada
saat pergi ke masa lampau untuk kemudian kembali ke masa kini. Alur ini
memiliki kelebihan tersendiri. Kita tidak bosan dan monoton pada satu plot
saja, melainkan ikut terombang ambing dalam permainan waktu yang membawa kita
bola-balik antara masa lalu dan masa kini. Misal pada saat Zaman mencoba
menelusuri jejak hidup Sri, Pak Tua, Nuraeni, Christine, Ibu Rajendra Khan dan
Madame Aimee mengajak kita ke masa lalu.
GAYA BAHASA
Ciri khas Tere Liye adalah mampu menyajikan
cerita dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami disertai quote-quote yang terselip
di antara halaman-halaman novelnya. Gaya ini masih dipakai di Tentang Kamu.
Masih sama seperti ke 25 novel pendahulunya. Di sinilah alasan mengapa saya
menyukai gaya bahasa Tere Liye, saya mendapatkan pemahaman yang baik tentang
suatu hal tanpa merasa digurui, tanpa merasa bahwa apa yang saya yakini
sebelumnya salah. Tere Liye mampu membangun karakter seseorang lewat
tulisan-tulisannya. Saya yakin, ada banyak orang yang membaca karya Tere Liye telah
bermetamorfosa menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. (Semoga
menjadi ladang pahala bagi beliau, aamiin)
PLUS
Tere Liye selalu membuat saya jatuh cinta
karena karyanya. Saya menangis di novel ini ketika gadis kecil 9 tahun yatim
piatu harus mengalami kekerasan lahir dan batin dari ibu tirinya. Saat Sri
harus dibenci oleh sahabat yang begitu dia cintai, ketika jatuh bangun
menjalani kerasnya hidup di ibu kota, ketika di usia lebih dari 30 ia belum
juga menikah, ketika ia harus menerima banyak kehilangan yang menyakitkan.
Kemudian saya menjadi kuat, ketika Sri
mengadapinya dengan penuh keberanian, ia tidak pernah membenci apalagi
mendendam. Sri tidak marah dan menggugat Tuhan atas segala kesedihan
bertubi-tubi yang ia rasakan. Sri adalah sosok perempuan berhati bening tanpa
prasangka yang memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Ia senantiasa
sabar dan bersyukur atas apa yang ia miliki. Lalu saya tersenyum dan tertawa
ketika perempuan yang mengalami begitu banyak cobaan itu adalah seorang gadis
periang yang humoris dan memberikan energi positif di lingkungannya.
MINUS
Menurut saya, kelemahan dari segi isi saya
dapati justru di ending cerita. Pada bagian di mana zaman membeberkan kejahatan
Lastri sejak ia kabur di pengasingan. Saya bertanya-tanya bagaimana Zaman dapat
memberikan kesimpulan bahwa Lastri menggoda pejabat pemerintah kemudian menjadi
istri simpanan, kemudian menjadi penadah mobil curian dan menikahi pemilik
bisnis gelap tersebut di Perancis (Hal.503)
Mungkin akan lebih baik apabila di bagian
sebelumnya dituliskan rangkaian penyelidikan Zaman terhadap Lastri yang ternyata
berhasil kabur dari pulau pengasingan. Kemunculan Lastri dan analisa Zaman di
ending tersebut menurut saya kurang pas.
Kelemahan lain terdapat beberapa typo
seperti :
Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup
untuk membuatnya menyayangi Sri Rahayu .....
(Hal.84) ------à Sri Rahayu seharusnya Sri Ningsih
Saatnya melumpuhkan Lastri dan Ningrum
(Hal.508) --à Ningrum seharusnya Murni
KESIMPULAN
Overall..
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, untuk kamu...
iya kamu.. kamu yang ingin belajar menerima, belajar untuk bersabar, belajar
untuk kuat. Untuk kamu yang ingin tersenyum
atas kisah cinta sederhana yang istimewa. Untuk kamu yang pernah menangis dan
terluka oleh kesakitan dan masa lalu. Novel ini akan menyadarkan, bahwa ada
banyak hal yang selayaknya kita syukuri, novel ini akan mengajarkan kita untuk
kuat dan bangkit dari segala keterpurukan.
Tentang kamu... iya kamu... yuk segera baca
novel keren ini!