Sabtu, 31 Desember 2016

SINOPSIS NOVEL "TENTANG KAMU"



RESENSI NOVEL : TENTANG KAMU
IYA KAMU... KAMU YANG HATINYA DIPENUHI OLEH LUKA MASA LALU
Judul Buku      : Tentang Kamu
Penerbit           : Republika
Penulis             : Tere Liye
Tebal Buku      : 524 Halaman
ISBN               : 978-602-08-2234-1
Harga              : Rp. 79.000,00 ( www.bukurepublika.id )
Tahun Terbit    : Cetakan I Oktober 2016
                           Cetakan II Oktober 2016

Karena dicintai  begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian.
 (Juz Keempat. Tentang Cinta. 1980-1999. Hal 286).
***
SINOPSIS
“Kamu tidak salah mendengarnya, Zulkarnaen... Klien ini mewariskan aset berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar poundsterling. Dalam mata uang negara asalmu, itu setara 19 triliun rupiah, bukan? Dengan warisan sebesar itu, dia lebih kaya dibanding Ratu Inggris dan keluarganya. Namanya bisa masuk dalam 100 orang terkaya di Kerajaan Inggris.” (Hal. 11)
Harta Warisan tanpa ahli waris. Itulah awal mula kisah dalam novel ini. Adalah Zaman Zulkarnaen, pengacara asal Indonesia dari Thompson & Co, firma hukum terkenal di Belgrave Square, London yang ditugaskan untuk memecahkan kasus seorang perempuan tua, berusia 70 tahun, dan belasan tahun terakhir tinggal di panti jompo.
Zaman ditugaskan untuk melakukan riset atas kasus tersebut. Harta waris yang tidak memiliki ahli waris itu harus jatuh ke tangan orang yang tepat. Masalahnya adalah, tidak ada petunjuk lain selain surat keterangan yang dititipkan beberapa tahun lalu melalui pos. Petunjuk pertama dan satu-satunya yang dimiliki Zaman hanyalah alamat panti jompo yang terletak di Paris, tempat perempuan tua itu menghabiskan masa senja dan mengembuskan nafas terakhir setelah meninggalkan harta warisan senilai 19 triliun rupiah. Berangkatah Zaman, menelusuri setapak demi setapak perjalanan hidup perempuan tua bernama Sri Ningsih. Perjalanan hidup yang sejak lahir tidak pernah berjalan mulus dan mudah. Pada akhirnya, bukan hanya Zaman harus menyelesaikan tugasnya, ia justru mendapatkan begitu banyak pelajaran hidup dari seorang Sri Ningsih.
Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. (Juz pertama. Tentang Kesabaran. 1946-1960)
Petunjuk selanjutnya adalah buku diary yang diberikan Madame Aimee, petugas panti jompo yang ia temui di Paris. Buku diary yang terbagi menjadi lima bagian itu diselipi beberapa foto yang ditempelkan. Foto pertama adalah Sri Ningsih kecil berdiri di atas perahu kecil dengan latar sebuah papan nama penunjuk tempat, ‘Bungin’.
Berangkatlah Zaman ke Sumbawa, Indonesia. Pulau Bungin mulai memberikan titik terang bagi Zaman. Di sana ia bertemu dengan Pak Tua, saksi hidup Sri Ningsih. Pak Tua adalah anak kepala kampung yang saat itu usianya lebih tua beberapa tahun dari Sri. Beliau menceritakan kisah seorang Sri Ningsih yang di juluki ‘Gadis kecil yang dikutuk’.
Di usia belia, Sri harus menerima kekerasan secara lahir dan batin dari ibu tirinya. Di usia 14 terjadi kebakaran di rumah Sri yang menyebabkan Ibu tirinya tewas. Sejak itu, Sri bersama adiknya memutuskan meninggalkan Pulau Bungin dan memulai harapan baru di pulau Jawa.
Babak baru kehidupan Sri Ningsih dimulai pada sebuah Madrasah di Surakarta, ia menemukan sahabat-sahabat baru dan keluarga Kiai Masum yang menyayanginya. Sri merasa bahagia, namun hanya dalam hitungan detik bahagia itu telah sirna. Pengkhianatan dari salah satu sahabatnya membawa luka yang cukup dalam di hatinya. Ia juga kehilangan adik satu-satunya dalam pembantaian gerakan pemusnahan massal di madrasah oleh PKI.
Bukan Sri namanya jika ia menyerah di perjalanan. Mimpinya untuk dapat meihat dunia harus tertunaikan. Sri kemudian melanjutkan hidupnya di Jakarta. Berusaha berdamai dengan masa lalu dan memeluk setiap jengkal rasa sakit yang ia dapatkan di madrasah. Sri bangkit, menyusun kembali puzzle-puzzle semangat yang telah runtuh sebelumnya.
Di sini, di kota tempat harapan ribuan pendatang berlabuh, tiap hari terminal, stasiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu gemerlap, jalan-jalan luas, kawasan hijau yang semakin habis, orang-orang mengejar mimpi.
Terima kasih atas pelajarn berharga tentang keteguhan. Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit, bangkit lagi, lagi dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.
(Juz ketiga. Tentang keteguhan hati. 1967-1979. Hal 210)
Sri Ningsih tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat dari sebelumnya. Jakarta mendidiknya untuk tidak pernah menyerah. Mulai dari menjadi pedang keliling nasi goreng, hingga ia terus melakukan inovasi-inovasi baru dan memiliki usaha rental mobil yang belum banyak di geluti pada saat itu bahkan mendirikan pabrik sabun yang mampu bersaing dengan pabrik terkenal lainnya. Namun cobaan datang silih berganti. Masa lalu yang ingin dia tinggalkan justru muncul kembali seperti hantu. Sri harus Pergi.
Lagi, Sri memutuskan hijrah ke luar negeri. London menjadi tempat pilihan Sri. Ia melakukan pekerjaan apa saja sepanjang ia dapat bertahan hidup dan memulai lagi kesempatan untuk berhasil kembali.
Bagaimana Seorang Sri Ningsih Menjalani kehidupannya di London? Dapatkah ia bangkit dari keterpurukan? Dapatkah ia melupakan masa lalunya yang kelam? Apakah perempuan bertubuh pendek, Gempal dan berkulit hitam itu akan menemukan cinta sejatinya? Lalu Zaman Zulkarnaen, mampukah ia memecahkan kasus tersebut dan memberikan keadilan bagi perempuan tua berhati kristal yang bernama Sri Ningsih?
REVIEW
Awalnya, ketika novel ini mendarat manis di tangan saya lalu melihat cover bergambar sepasang sepatu, saya sempat bersorak kegirangan (dalam hati tentunya). Ini cover yang saya pilih ketika Tere Liye melakukan survei di fanspage fb nya. Saya termasuk orang yang rajin menyambangi fanspage nya, selain quote nya yang menenangkan hati para single seperti saya –eh- juga untuk update novel terbaru apa yang akan beliau luncurkan.
Ketika itu, saya memilih cover tersebut karena Tere Liye mengatakan akan membuat novel tentang perjalanan. Menurut saya pribadi, gambar sepatu mewakili perjalanan hidup seseorang. Kemana kaki melangkah, keputusan apa yang dibuat, seberapa lama kita menjalani berbagai suka duka dan peliknya kehidupan, sepatulah yang menjadi saksi bisu nya.
Jadi, dengan petunjuk dari Tere Liye bahwa ini adalah novel tentang perjalanan, ekspektasi awal saya terhadap novel ini mirip dengan karya A.Fuadi, Ranah Tiga Warna. Novel yang menceritakan perjalanan Alif melintasi berbagai benua dengan segala aral rintangan yang dihadapinya. Perbedaan budaya, bahasa dan kebiasaan menjadi permasalahan yang sama yang akan saya temukan di novel ini. Saya pun membayangkan tokoh yang tidak jauh berbeda dengan Alif. Mungkin gaya bahasanya saja yang akan berbeda antara A. Fuadi dengan Tere Liye.
Dan... tepat di halaman 13 saya mengakui ternyata hipotesis awal saya salah total. Ini jelas berbeda. Tentang kamu, iya.. kamu. Kamu yang mempunyai harta warisan setara dengan kekayaan yang dimiliki Ratu Inggris dan keluarganya. Kamu yang dengan harta sebanyak itu memilih menghabiskan waktu senja di sebuah Panti Jompo dengan mengajar menari dan berkebun tomat, cabai, dan sayur mayur lainnya.
Halaman 13 menyadarkan saya, bahwa sejatinya novel Tentang Kamu bercerita tentang biografi seorang Sri Ningsih. Zaman Zulkarnaen yang terpilih untuk menapaki kisah hidup Sri sejak ia lahir di Pulau Bungin Sumbawa kemudian ke Surakarta, Ibukota Jakarta, London, dan mengakhiri kisahnya di Paris. Meninggalkan 19 Triliun Rupiah tanpa ahli waris.
LATAR CERITA
Menapaki halaman 14, 15,..., 524 mulai membuat saya semakin tertarik padamu Sri. Tere Liye belum pernah mengecewakan saya dalam menggambarkan setting dalam cerita. Saya masih teringat dan susah sekali move on dari abang Borno yang mengayuh perahu sepit di sungai Kapuas. Hutan di pedalaman Sumatera dalam Novel Amelia, tegangnya suasana bom Bali dan indahnya Lombok dalam Sunset Bersama Rosi, kisruhnya tsunami di Aceh dalam hafalan solat Delisa, atau berbagai intrik ekonomi-politik dalam Negeri Para Bedebah. Ah, saya tidak mungkin memaparkan 17 novel Tere Liye yang tega membuat saya gagal Move on.  Tere Liye sukses membawa saya ke Kalimantan, Aceh, Sumatera, Lombok, Bali ,dsb, meskipun saya belum pernah ke sana.
Ini di depan Victoria Bus Station, persis di samping stasiun kereta Victoria tempat dia turun setiap pagi, dan hanya 900 meter dari Belgrave Square. Entah kapan foto ini diambil, Sri berdiri di depan bus dengan nomor rute 16, ini rute yang menghubungkan Cricklewood dan Victoria, dengan lintasan sepanjang 9,7 km, melewati jalan dan landmark penting Kota Londong, termasuk Buckingham Palace.
Tentang kamu juga sukses menyeret saya ke rentang tahun 1942- 2000an, bahkan Tentang Kamu juga membawa saya bernostalgia dengan kapten Philips dari kapal haji Holland Blitar yang membawa Ana dan Elsa tahun 1938 di novel Rindu. Setting Pulau Bungin sebagai perkampungan nelayan, Jakarta tempo dulu, London, Paris, ah iya, Surakarta. Beberapa peristiwa juga mendukung cerita seperti hidup dan nyata, saya sampai larut dalam cerita dan nyaris mempercayai kalau ini adalah true story. Di antara peristiwa itu antara lain pemberontakan PKI tahun 1965, peristiwa Malari 1974 bahkan krisis millenium bug atau Y2K.
Saya jadi bertanya-tanya berapa lama Tere Liye melakukan risetnya untuk menulis Tentang Kamu. Dalam seminarnya, Tere Liye pernah mengatakan bahwa membuat novel itu mudah dan tidak memakan waktu yang lama. Yang tidak mudah justru risetnya. Pantas saja jika hasil novelnya hampir selalu mendapat stempel best seller.

KARAKTER TOKOH
“Kamu tahu, Sri, kenapa aku baru menikah di usia 39 tahun?”Hakan bertanya pelan.
“Karena kamu laki-laki yang pemalu.” Sri menjawab.
“Bukan, Sri. Melainkan agar kita bisa bertemu dan menikah. Aku menunggu begitu lama untuk jatuh cinta, Sri. Hingga seorang gadis Indonesia bernama Sri Ningsih tiba di London. Aku juga menunggu sekian lama untuk bertemu dengannya di bus Rute 16. Itu suratan takdir yang menakjubkan.”(Hal.408)
Ini Tentang Kamu Sri, yang sepanjang perjalanan hidupmu memilih cara-cara hidup yang bersahaja. Sri yang tidak pernah membiarkan rasa benci dan dendam menguasai hatinya. Sri yang selalu memandang setiap hal dari sisi yang berbeda. Sri, meski menurutmu, kamu yang pendek, gempal dan berkulit hitam tidak mungkin menemukan cinta dalam hidupmu. Nyatanya, Sri Ningsih yang pada saat itu hanya berprofesi sebagai supir bus rute 16, mampu meluluhkan hati seorang Hakan Karim. Pemuda Turki yang tampan dan cerdas. Ah, saya jadi iri dengan Sri di bagian ini.
Kalau kalian menganggap novel ini serius sepanjang 524 halaman, kalian salah besar. Keluarga angkat Sri di London adalah orang-orang yang selalu membuat saya tertawa sendirian. Lalu ada momen-momen romantis antara Sri dan Hakan. Bukan romantis yang dipenuhi bunga, surat cinta penuh rayuan gombal, makan malam berdua dan sejenisnya. Kalau kalian sudah membaca novel-novel Tere Liye, kisah romantis begitu jelas bukan Tere Liye banget. Ini romantisnya udah kebangetan deh pokoknya. Bikin speechless dan saya akan baper berhari-hari sampai bikin status di fb.
Tere Liye tidak perlu menjelaskan karakter-karakter tokoh-tokohnya dalam paragraf tersendiri. Kita sebagai pembaca diberikan ruang yang luas untuk berimajinasi dan menyimpulkan bagaimana karakter masing-masing tokohnya lewat dialog-dialog yang ada. Saya rasa, dari metode inilah Tere Liye sukses menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam novelnya. Karena kita sebagai pembaca yang bertugas menemukan lembar keberapa nilai-nilai itu berada. Karakter apa yang menempel pada Rahayu, Nugroho, Sri, Nusi Maratta, Pak Tua, La Golo, Zaman, Lusi, Rajendra Khan dan semua tokoh yang ada.

PLOT
Alur maju mundur digunakan Tere Liye dalam novel ini. Hal ini umum dilakukan dalam penulisan novel biografi, karena ada saat pergi ke masa lampau untuk kemudian kembali ke masa kini. Alur ini memiliki kelebihan tersendiri. Kita tidak bosan dan monoton pada satu plot saja, melainkan ikut terombang ambing dalam permainan waktu yang membawa kita bola-balik antara masa lalu dan masa kini. Misal pada saat Zaman mencoba menelusuri jejak hidup Sri, Pak Tua, Nuraeni, Christine, Ibu Rajendra Khan dan Madame Aimee mengajak kita ke masa lalu.  
GAYA BAHASA
Ciri khas Tere Liye adalah mampu menyajikan cerita dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami disertai quote-quote yang terselip di antara halaman-halaman novelnya. Gaya ini masih dipakai di Tentang Kamu. Masih sama seperti ke 25 novel pendahulunya. Di sinilah alasan mengapa saya menyukai gaya bahasa Tere Liye, saya mendapatkan pemahaman yang baik tentang suatu hal tanpa merasa digurui, tanpa merasa bahwa apa yang saya yakini sebelumnya salah. Tere Liye mampu membangun karakter seseorang lewat tulisan-tulisannya. Saya yakin, ada banyak orang yang membaca karya Tere Liye telah bermetamorfosa menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. (Semoga menjadi ladang pahala bagi beliau, aamiin)
PLUS
Tere Liye selalu membuat saya jatuh cinta karena karyanya. Saya menangis di novel ini ketika gadis kecil 9 tahun yatim piatu harus mengalami kekerasan lahir dan batin dari ibu tirinya. Saat Sri harus dibenci oleh sahabat yang begitu dia cintai, ketika jatuh bangun menjalani kerasnya hidup di ibu kota, ketika di usia lebih dari 30 ia belum juga menikah, ketika ia harus menerima banyak kehilangan yang menyakitkan.
Kemudian saya menjadi kuat, ketika Sri mengadapinya dengan penuh keberanian, ia tidak pernah membenci apalagi mendendam. Sri tidak marah dan menggugat Tuhan atas segala kesedihan bertubi-tubi yang ia rasakan. Sri adalah sosok perempuan berhati bening tanpa prasangka yang memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Ia senantiasa sabar dan bersyukur atas apa yang ia miliki. Lalu saya tersenyum dan tertawa ketika perempuan yang mengalami begitu banyak cobaan itu adalah seorang gadis periang yang humoris dan memberikan energi positif di lingkungannya.
MINUS
Menurut saya, kelemahan dari segi isi saya dapati justru di ending cerita. Pada bagian di mana zaman membeberkan kejahatan Lastri sejak ia kabur di pengasingan. Saya bertanya-tanya bagaimana Zaman dapat memberikan kesimpulan bahwa Lastri menggoda pejabat pemerintah kemudian menjadi istri simpanan, kemudian menjadi penadah mobil curian dan menikahi pemilik bisnis gelap tersebut di Perancis (Hal.503)
Mungkin akan lebih baik apabila di bagian sebelumnya dituliskan rangkaian penyelidikan Zaman terhadap Lastri yang ternyata berhasil kabur dari pulau pengasingan. Kemunculan Lastri dan analisa Zaman di ending tersebut menurut saya kurang pas.
Kelemahan lain terdapat beberapa typo seperti :
Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya menyayangi Sri Rahayu .....
(Hal.84) ------à Sri Rahayu seharusnya Sri Ningsih
Saatnya melumpuhkan Lastri dan Ningrum (Hal.508) --à Ningrum seharusnya Murni
KESIMPULAN
Overall..  Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, untuk kamu... iya kamu.. kamu yang ingin belajar menerima, belajar untuk bersabar, belajar untuk kuat. Untuk kamu  yang ingin tersenyum atas kisah cinta sederhana yang istimewa. Untuk kamu yang pernah menangis dan terluka oleh kesakitan dan masa lalu. Novel ini akan menyadarkan, bahwa ada banyak hal yang selayaknya kita syukuri, novel ini akan mengajarkan kita untuk kuat dan bangkit dari segala keterpurukan.
Tentang kamu... iya kamu... yuk segera baca novel keren ini!