Waktu menunjukan pukul 06.20
selepas isi bensin di POM Bensin pekayon. Mudah-mudahan ngga telat.
Secepat mungkin ku kemudikan beat merah menuju Jl.Ahmad Yani, takut
kondisi jalan semakin macet. Motor melaju halus di turunan jembatan
layang bekasi square. Kondisi jalan cukup padat tapi pas untuk kecepatan
minimal 60 km/jam. Mobil-mobil pribadi mengantri masuk jalan tol.
Puluhan sepeda motor melaju kencang sepertinya sudah tidak peduli lagi
keselamatan pengguna jalan.
Pandangan yang sebelumnya fokus ke depan dan semakin dekat dengan lampu merah kini berpaling pada pemandangan ganjil yang mengoyak hati. Sepeda butut yang sudah tidak jelas apa warnanya, hanya guratan-guratan besi berkarat terlihat jelas. Susah payah sepeda karatan itu berusaha mengambil lajur kanan supaya bisa berbelok ke kanan setelah lampu merah. Tanpa lampu sign, tanpa kaca spion, dan tanpa klakson pastinya. Beberapa pengendara motor yang kaget berteriak mengeluarkan sumpah serapah. Sementara mobil-mobil pribadi membunyikan klakson sekeras-kerasnya.
Si pemilik sepeda tidak bergeming, tidak kesal karena di sumpahi, apalagi berhenti dan menantang mereka. Siapa si pengendara sepeda karatan itu?
Seorang bocah berseragam putih merah, bajunya agak lusuh dan kusut, celananya terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Kalau dikira-kira usianya mungkin sepantaran kelas 5 SD. Sigap ia melongokan kepala ke sebelah kanan. Tidak peduli dengan bunyi klakson ataupun teriakan-teriakan orang-orang yang protes atas keberadaannya.
Dan dia tidak sendiri. Bocah perempuan yang juga berseragam putih merah dan rambut agak pirang diikat ke belakang menggenggam erat stang sepeda tepat di sebelah tangan kakaknya yang sedang mengendarai. Ia duduk menyamping di bagian depan sepeda. tangan kirinya sibuk memegangi kotak kue sementara tangan kanannya untuk menopang tubuhnya agar seimbang. Entah di mana sekolahnya, entah seberapa jauh si adik kakak itu harus melajukan sepeda karatan itu untuk sampai di sekolah. Entah seberapa banyak sumpah serapah yang keluar dari orang-orang yang hanya peduli pada diri sendiri.. termasuk juga diri saya sendiri... Membayangkannya saja sudah membuat hati terasa sesak... Semoga Allah senantiasa menjaga mereka, melindungi dan memberikan kekuatan luar biasa... Semoga mereka kelak akan menjadi manusia hebat... aamiiin
Sungguh potret yang sering sekali terabaikan. Kita lebih sering melihat potret milik kita sendiri. Sibuk dengan setiap kekurangan dan lebih banyak mengeluh. Kita abai dengan potret milik orang lain. Mungkin saja potret orang lain itu jauh lebih lusuh. Kita hanya perlu sedikit lebih bersyukur untuk lebih merasa bahagia...
Pandangan yang sebelumnya fokus ke depan dan semakin dekat dengan lampu merah kini berpaling pada pemandangan ganjil yang mengoyak hati. Sepeda butut yang sudah tidak jelas apa warnanya, hanya guratan-guratan besi berkarat terlihat jelas. Susah payah sepeda karatan itu berusaha mengambil lajur kanan supaya bisa berbelok ke kanan setelah lampu merah. Tanpa lampu sign, tanpa kaca spion, dan tanpa klakson pastinya. Beberapa pengendara motor yang kaget berteriak mengeluarkan sumpah serapah. Sementara mobil-mobil pribadi membunyikan klakson sekeras-kerasnya.
Si pemilik sepeda tidak bergeming, tidak kesal karena di sumpahi, apalagi berhenti dan menantang mereka. Siapa si pengendara sepeda karatan itu?
Seorang bocah berseragam putih merah, bajunya agak lusuh dan kusut, celananya terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Kalau dikira-kira usianya mungkin sepantaran kelas 5 SD. Sigap ia melongokan kepala ke sebelah kanan. Tidak peduli dengan bunyi klakson ataupun teriakan-teriakan orang-orang yang protes atas keberadaannya.
Dan dia tidak sendiri. Bocah perempuan yang juga berseragam putih merah dan rambut agak pirang diikat ke belakang menggenggam erat stang sepeda tepat di sebelah tangan kakaknya yang sedang mengendarai. Ia duduk menyamping di bagian depan sepeda. tangan kirinya sibuk memegangi kotak kue sementara tangan kanannya untuk menopang tubuhnya agar seimbang. Entah di mana sekolahnya, entah seberapa jauh si adik kakak itu harus melajukan sepeda karatan itu untuk sampai di sekolah. Entah seberapa banyak sumpah serapah yang keluar dari orang-orang yang hanya peduli pada diri sendiri.. termasuk juga diri saya sendiri... Membayangkannya saja sudah membuat hati terasa sesak... Semoga Allah senantiasa menjaga mereka, melindungi dan memberikan kekuatan luar biasa... Semoga mereka kelak akan menjadi manusia hebat... aamiiin
Sungguh potret yang sering sekali terabaikan. Kita lebih sering melihat potret milik kita sendiri. Sibuk dengan setiap kekurangan dan lebih banyak mengeluh. Kita abai dengan potret milik orang lain. Mungkin saja potret orang lain itu jauh lebih lusuh. Kita hanya perlu sedikit lebih bersyukur untuk lebih merasa bahagia...