Kamis, 10 Juli 2014

Potret Kusam Sepeda Tua

Waktu menunjukan pukul 06.20 selepas isi bensin di POM Bensin pekayon. Mudah-mudahan ngga telat. Secepat mungkin ku kemudikan beat merah menuju Jl.Ahmad Yani, takut kondisi jalan semakin macet. Motor melaju halus di turunan jembatan layang bekasi square. Kondisi jalan cukup padat tapi pas untuk kecepatan minimal 60 km/jam. Mobil-mobil pribadi mengantri masuk jalan tol. Puluhan sepeda motor melaju kencang sepertinya sudah tidak peduli lagi keselamatan pengguna jalan.
Pandangan yang sebelumnya fokus ke depan dan semakin dekat dengan lampu merah kini berpaling pada pemandangan ganjil yang mengoyak hati. Sepeda butut yang sudah tidak jelas apa warnanya, hanya guratan-guratan besi berkarat terlihat jelas. Susah payah sepeda karatan itu berusaha mengambil lajur kanan supaya bisa berbelok ke kanan setelah lampu merah. Tanpa lampu sign, tanpa kaca spion, dan tanpa klakson pastinya. Beberapa pengendara motor yang kaget berteriak mengeluarkan sumpah serapah. Sementara mobil-mobil pribadi membunyikan klakson sekeras-kerasnya.
Si pemilik sepeda tidak bergeming, tidak kesal karena di sumpahi, apalagi berhenti dan menantang mereka. Siapa si pengendara sepeda karatan itu?
Seorang bocah berseragam putih merah, bajunya agak lusuh dan kusut, celananya terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Kalau dikira-kira usianya mungkin sepantaran kelas 5 SD. Sigap ia melongokan kepala ke sebelah kanan. Tidak peduli dengan bunyi klakson ataupun teriakan-teriakan orang-orang yang protes atas keberadaannya.
Dan dia tidak sendiri. Bocah perempuan yang juga berseragam putih merah dan rambut agak pirang diikat ke belakang menggenggam erat stang sepeda tepat di sebelah tangan kakaknya yang sedang mengendarai. Ia duduk menyamping di bagian depan sepeda. tangan kirinya sibuk memegangi kotak kue sementara tangan kanannya untuk menopang tubuhnya agar seimbang. Entah di mana sekolahnya, entah seberapa jauh si adik kakak itu harus melajukan sepeda karatan itu untuk sampai di sekolah. Entah seberapa banyak sumpah serapah yang keluar dari orang-orang yang hanya peduli pada diri sendiri.. termasuk juga diri saya sendiri... Membayangkannya saja sudah membuat hati terasa sesak... Semoga Allah senantiasa menjaga mereka, melindungi dan memberikan kekuatan luar biasa... Semoga mereka kelak akan menjadi manusia hebat... aamiiin
Sungguh potret yang sering sekali terabaikan. Kita lebih sering melihat potret milik kita sendiri. Sibuk dengan setiap kekurangan dan lebih banyak mengeluh. Kita abai dengan potret milik orang lain. Mungkin saja potret orang lain itu jauh lebih lusuh. Kita hanya perlu sedikit lebih bersyukur untuk lebih merasa bahagia...

Bangkit ketika semua orang mengira kau tidak akan pernah bisa bangkit


23 Juni 2014 pukul 6:59
Saya tidak terlalu suka menonton pertandingan sepak bola sebenarnya. Jadi, menurut saya tidak ada yang istimewa dengan piala dunia. Hanya tahu bahwa beberapa orang bahkan rela begadang demi menikmati siaran langsungnya, padahal jelas esok pagi akan ada siaran ulangnya. Jadi ngga perlu kan ber ngantuk ngantuk ria.. hehehhe.. itu kalo saya lhoo... karna tidak tahu kenikmatan apa yang dirasakan para pecinta bola..
Well.. pagi tadi saya "terpaksa" menonton bola ketika sedang menyiapkan baju buat raker jam 8 pagi. Hanya geleng geleng ngga jelas melihat si bapak serius sekali menghadap ke televisi.. males banget mendengarkan kicauan protesnya melebihi pembawa acara bola.
Singkat cerita selesailah saya menyetrika, sementara saya iseng ikut ikutan menonton pertandingan yang kata si bapak tinggal 8 menit lagi.
Di sudut kiri atas televisi tertera nama negara amerika dan portugal dengan skor 2-1. Beberapa pemain amerika yang baru saja mencetak gol kedua kok jadi sering jatoh yaa.. heheheh...
Oke lah.. ngga mau sok tahu dengan hal itu karena fokus saya bukan mengomentari jalannya pertandingan.
Ada satu pesan terselip dalam pertandingan ini. Sekali lagi saya bukan penggemar sepak bola yang fanatik sekali mendukung tim negara tertentu (habis gak ada Indonesia).
Waktu yang hanya tersisa 8 menit kemudian dipotong dengan jatuhnya beberapa pemain AS yang hitunglah kira-kira 3 menit saja. Maka tersisalah waktu sebanyak 5 menit. Mungkin rasanya seperti sudah di ujung tanduk. Mana mungkin bisa mencetak gol paling tidak satu saja dalam waktu terbilang singkat. Para supporter tidak lagi mengaum meneriakan yel nya.. beberapa pemain portugal pun terlihat tidak lagi antusias bermain. Jelas supporter AS yakin sekali mereka akan menang, saya rasa sama yakinnya kalau kelak portugal akan pulang ke kampung halaman.
Tapi apa yang terjadi?
Akhirnya, Selecao das Quinas berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2 sama lewat pemain pengganti Varella, yang menyundul bola dengan memanfaatkan umpan Ronaldo 20 detik menjelang laga berakhir.
Luar biasaaa... ini sangat luar biasa bagi saya. Seseorang yang sudah berada di depan kekalahan biasanya mentalnya akan jatuh dan menyerah. Tapi tidak bagi mereka. Inilah mental juara. Ketika semua org melihat kita terjatuh, ketika mereka bahkan tidak yakin kita bisa bangkit dan berdiri di ujung waktu.

Tapi mental juara bahkan tetap bisa bangkit di detik detik terakhir.. SO NEVER GIVE UP! Jangan menyerah :)